>Khayal Terakhir

>Andai semilir angin tidak membawa butiran-butiran debu yang hinggap di pundakku
Teramat pekat beban hidup ini atau pula burung-burung terbang bebas tanpa sayap
Teramat sukar dicapai nalar kusaksikan segenap alam mengepung disesaki butir-butir berdebu
Hingga sampai terdiam sunyi berteduh di bawah lazuardi perempuan nan molek
Datang menjelma bagai kilatan warna fatamorgana khayal belaka

Mataku seketika layu di antara tiupan angin yang menderu
Aku berkaca pada wajah halusnya masih seperti dahulu seperti pertama kali bertemu
Mengintip dua kumbang yang sedang bercumbu puas atau bercerita tentang hidup
Sampai pada titik nadir yang lunglai tegolek lemas tak bernyaya

Angin sejenak berhenti matanya tampak teduh butur-butir air mata menepi diantara kelopak mata
Ada apakah dengannya, kenapa dia menangis, bersedih dalam kebisuanya
Ia menangkap tanda tanya diri ini dengan menyeka sisa air mata di pipinya
Tanya-tanya itu menjawab tegas segalanya bagai arah lurus dalam khayal kehidupan
Hari masih terus bergulir dan melaju melawan kabisat sejalan bergerilya dengan kuatnya waktu

Sepintas lalu sekebat hitam memisah dari jauh suara panggilan jagad
Terlintas di benak aku tentang khayal nyata antara fatamorgana
Hanya menangis pilu tak kuasa melihat dia tidak berpaling dalam langkah pergi
Hanya doa-doa yang kupanjatkan di peristirahatan terakhirnya
Jiwa ini kesepian tak beteman dan hanya merangkul dibalik nyata

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

About Me

My Tweets

%d bloggers like this: